Minggu, 19 Oktober 2014

Kata khas kota Surabaya ibu kota jawa timur

Provinsi Jawa Timur (JATIM) Ibukota nya adalah SurabayaTarian Tradisional : Tari Remong, Tari Reog PonorogoRumah Adat : Rumah JogloSenjata Tradisonal : CluritLagu Daerah : Keraban Sape, Tanduk MajengSuku : Jawa, Madura, Tengger, dan OsingJulukan : Kota Pahlawan

Bahasa Arekan

   Dialek Surabaya atau lebih sering dikenal sebagai bahasa Suroboyoan (Bahasa Jawa : boso Suroboyoan) adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Surabaya dan sekitarnya. Dialek ini berkembang dan digunakan oleh sebagian masyarakat Surabaya dan sekitarnya.
  Secara struktural bahasa, bahasa Suroboyoan dapat dikatakan sebagai bahasa paling kasar. Meskipun demikian, bahasa dengan tingkatan yang lebih halus masih dipakai oleh beberapa orang Surabaya, sebagai bentuk penghormatan atas orang lain. Namun penggunaan bahasa Jawa halus (madya sampai krama) di kalangan orang-orang Surabaya kebanyakan tidaklah sehalus di Jawa Tengah terutama Yogyakarta dan Surakarta dengan banyak mencampurkan kata sehari-hari yang lebih kasar.

Penggunaan

Batas wilayah penggunaan dialek Suroboyoan diperkirakan sampai wilayah:
  • Wilayah Selatan
    • Perak, Jombang.
      Wilayah Perak Utara masih menggunakan Dialek Surabaya, sementara Perak Selatan telah menggunakan Dialek Kulonan.
    • Malang (beberapa daerah di wilayah Kabupaten dan Kota Malang juga menggunakan dialek ini)
  • Wilayah Utara
    • Madura
      Beberapa orang Madura dapat menggunakan Dialek ini secara aktif.
    • Barat
      Wilayah Gresik , Wilayah Lamongan
    • Timur
      Belum diketahui secara pasti, namun di sepanjang pesisir tengah Jawa Timur (PasuruanProbolinggo sampai Banyuwangi) Dialek ini juga banyak digunakan.
Akhir-akhir ini, banyak media lokal yang menggunakan dialek Surabaya sebagai bahasa pengantar mereka.
Orang Surabaya lebih sering menggunakan partikel "rek" sebagai ciri khas mereka. Partikel ini berasal dari kata "arek", yang dalam dialek Surabaya menggantikan kata "bocah" (anak) dalam bahasa Jawa standar. Partikel lain adalah "seh" (e dibaca seperti e dalam kata edan), yang dlam bahasa Indonesia setara dengan partikel "sih".
Orang Surabaya juga sering mengucapkan kata "titip" secara /tetep/, dengan i diucapkan seperti /e/ dalam kata "edan"; dan kata "tutup" secara /totop/ dengan u diucapkan seperti /o/ dalam kata "soto". Selain itu, vokal terbuka sering dibuat hambat, seperti misalnya: "kaya" (=seperti) lebih banyak diucapkan /k@y@?/ daripada /k@y@/, kata "isa" (=bisa) sering diucapkan /is@?/ daripada /is@/.

Kosa kata[

Beberapa kosa kata khas Suroboyoan:
  • "Pongor, Gibeng, Santap, Waso (istilah untuk Pukul atau Hantam);
  • "kathuken" berarti "kedinginan" (bahasa Jawa standar: kademen);
  • "gurung" berarti "belum" (bahasa Jawa standar: durung);
  • "gudhuk" berarti "bukan" (bahasa Jawa standar: dudu);
  • "deleh" berarti "taruh/letak" (delehen=letakkan) (bahasa Jawa standar: dekek);
  • "kek" berarti "beri" (dikek'i=diberi, kek'ono=berilah) (bahasa Jawa standar: wenehi);
  • "ae" berarti "saja" (bahasa Jawa standar: wae);
  • "gak/ogak" berarti "tidak" (bahasa Jawa standar: ora);
  • "arek" berarti "anak" (bahasa Jawa standar: bocah);
  • "kate/kape" berarti "akan" (bahasa Jawa standar: arep);
  • "lapo" berarti "sedang apa" atau "ngapain" (bahasa Jawa standar: ngopo);
  • "opo'o" berarti "mengapa" (bahasa Jawa standar: kenopo);
  • "soale" berarti "karena" (bahasa Jawa standar: kerono);
  • "atik" (diucapkan "atek") berarti "pakai" atau "boleh" (khusus dalam kalimat"gak atik!" yang artinya "tidak boleh");
  • "longor/peleh" berarti "tolol" (bahasa Jawa standar: goblok/ndhableg);
  • "cek" ("e" diucapkan seperti kata "sore") berarti "agar/supaya" (bahasa Jawa standar: ben/supados);
  • "gocik" berarti "takut/pengecut" (bahasa Jawa standar: jireh);
  • "mbadog" berarti "makan" (sangat kasar) (bahasa Jawa standar: mangan);
  • "ciamik soro/mantab jaya" berarti "enak luar biasa" (bahasa Jawa standar: enak pol/enak banget/enak tenan);
  • "rusuh" berarti "kotor" (bahasa Jawa standar: reged);
  • "gae" berarti "pakai/untuk/buat" (bahasa Jawa standar: pakai/untuk=kanggo, buat=gawe);
  • "andhok" berarti "makan di tempat selain rumah" (misal warung);
  • "cangkruk" berarti "nongkrong";
  • "babah" berarti "biar/masa bodoh";
  • "matek" berarti "mati" (bahasa Jawa standar: mati);
  • "sampek/sampik" berarti "sampai/hingga" (bahasa Jawa standar: nganti);
  • "barekan" berarti "lagipula";
  • "masiyo" berarti "walaupun";
  • "nang/nak" berarti "ke" atau terkadang juga "di" (bahasa Jawa standar: menyang);
  • "mari" berarti "selesai";(bahasa Jawa standar: rampung); acapkali dituturkan sebagai kesatuan dalam pertanyaan "wis mari tah?" yang berarti "sudah selesai kah?" Pengertian ini sangat berbeda dengan "mari" dalam Bahasa Jawa Standar. Selain petutur Dialek Suroboyoan, "mari" berarti "sembuh"
  • "mene" berarti "besok" (bahasa Jawa standar: sesuk);
  • "maeng/mau" berarti "tadi".
  • "koen" (diucapkan "kon") berarti "kamu" (bahasa Jawa standar: kowe). Kadangkala sebagai pengganti "koen", kata "awakmu" juga digunakan. Misalnya "awakmu wis mangan ta?" (Kamu sudah makan kah?") Dalam bahasa Jawa standar, awakmu berarti "badanmu" (awak = badan)
  • "ladhing" berarti "pisau" (bahasa Jawa standar: peso);
  • "lugur" berarti "jatuh" (bahasa Jawa standar: tiba);
  • "dhukur" berarti "tinggi" (bahasa Jawa standar: dhuwur);
  • "thithik" berarti "sedikit" (bahasa Jawa standar: sithik);
  • "temen" berarti "sangat" (bahasa Jawa standar: banget);
  • "pancet" berarti "tetap sama" ((bahasa Jawa standar: tetep);
  • "iwak" berarti "lauk" (bahasa Jawa standar: lawuh, "iwak" yang dimaksud disini adalah lauk-pauk pendamping nasi ketika makan, "mangan karo iwak tempe", artinya Makan dengan lauk tempe, dan bukanlah ikan (iwak) yang berbentuk seperti tempe);
  • "engkuk" (u diucapkan o) berarti "nanti" (bahasa Jawa standar: mengko);
  • "ndhek" berarti "di" (bahasa Jawa standar: "ing" atau "ning"; dalam bahasa Jawa standar, kata "ndhek" digunakan untuk makna "pada waktu tadi", seperti dalam kata "ndhek esuk" (=tadi pagi),"ndhek wingi" (=kemarin));
  • "nontok" lebih banyak dipakai daripada "nonton";
  • "yok opo" (diucapkan /y@?@p@/) berarti "bagaimana" (bahasa Jawa standar: "piye" atau *"kepiye"; sebenarnya kata "yok opo" berasal dari kata "kaya apa" yang dalam bahasa Jawa standar berarti "seperti apa")
  • "peno"/sampeyan (diucapkan pe n@; samp[e]yan dengan huruf e seperti pengucapan kata meja) artinya kamu
  • "jancuk" ialah kata makian yang sering dipakai seperti "fuck" dalam bahasa Inggris; merupakan singkatan dari bentuk pasif "diancuk"; variasi yang lebih kasar ialah "mbokmu goblok, makmu kiper, dengkulmu sempal, matamu suwek"; oleh anak muda sering dipakai sebagai bumbu percakapan marah
  • "waras" ialah sembuh dari sakit (dalam Bahasa Jawa Tengah sembuh dari penyakit jiwa)
  • "embong" ialah jalan besar / jalan raya (bahasa Jawa standar : "ratan/dalan gedhe")
  • "nyelang" arinya pinjam sesuatu
  • "parek/carek" artinya dekat
  • "ndingkik" artinya mengintip
  • "semlohe" artinya sexy (khusus untuk perempuan)
"jancuk" dari kata 'dancuk' dan turunan dari 'diancuk' dan turunan dari 'diencuk' yg artinya 'disetubuhi' ('dientot' bahasa betawinya). Orang Jawa (golongan Mataraman) pada umumnya menganggap dialek Suroboyoan adalah yang terkasar, namun sebenarnya itu menujukkan sikap tegas, lugas, dan terus terang. Sikap basa basi yang diagung-agungkan Wong Jawa, tidak berlaku dalam kehidupan Arek Suroboyo. 
Misalnya dalam berbicara, Wong Jawa menekankan tidak boleh memandang mata lawan bicara yang lebih tua atau yang dituakan atau pemimpin, karena dianggap tidak sopan. Tapi dalam budaya Arek Suroboyo, hal tersebut menandakan bahwa orang tersebut sejatinya pengecut, karena tidak berani memandang mata lawan bicara. Tapi kata jancuk juga dapat diartikan sebagai tanda persahabatan. Arek-arek Suroboyo apabila telah lama tidak bertemu dengan sahabatnya jika bertemu kembali pasti ada kata jancuk yang terucap, contoh: "Jancuk! Yok opo khabare, rek. Suwi gak ketemu!" Jancuk juga merupakan tanda seberapa dekatnya Arek Suroboyo dengan temannya yang ditandai apabila ketika kata jancuk diucapkan obrolan akan semakin hangat. Contoh: "Yo gak ngunu, cuk, critane, matamu, mosok mbalon gak mbayar".
Selain itu, sering pula ada kebiasaan di kalangan penutur dialek Surabaya, dalam mengekspresikan kata 'sangat', mereka menggunakan penekanan pada kata dasarnya tanpa menambahkan kata sangat (bangat atau temen) dengan menambahkan vokal "u", misalnya "sangat panas" sering diucapkan "puanas", "sangat pedas" diucapkan "puedhes", "sangat enak" diucapkan "suedhep". Apabila ingin diberikan penekanan yang lebih lagi, vokal "u" dapat ditambah.
  • Hawane puanas (udaranya panas sekali)
  • Sambele iku puuuedhes (sambal itu sangat sangat pedas sekali)
Selain itu. salah satu ciri lain dari bahasa Jawa dialek Surabaya, dalam memberikan perintah menggunakan kata kerja, kata yang bersangkutan direkatkan dengan akhiran -no. Dalam bahasa Jawa standar, biasanya direkatkan akhiran -ke
  • "Uripno (Jawa standar: urip-ke) lampune!" (Hidupkan lampunya!)
  • "Tukokno (Jawa standar: tukok-ke) kopi sakbungkus!" (Belikan kopi sebungkus!)

Kamis, 28 Agustus 2014

Wisata Sejarah Kota Pahlawan Surabaya

WISATA SEJARAH KOTA PAHLAN     bendera.gif (1692 bytes)
NAPAK TILAS  PERTEMPURAN
AREK-AREK SURABAYA
(available in English)
Peristiwa 10 Nopember 1945 di Kota Surabaya merupakan peristiwa besar dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia di dalam mempertahankan kemerdekaannya. Arek-arek Suroboyo yang terdiri dari berbagai suku, lapisan dan kedudukan secara gagah berani dan dengan semangat kepahlawanannya menentang setiap keinginan dari kaum penjajah yang akan kembali merampas kemerdekaan Bangsa dan Negara Indonesia. Dengan semboyan   "Merdeka atau Mati", dengan gagah berani, arek-arek Suroboyo dengan senjata apa adanya menghadapi kekuatan penjajah yang menggunakan senjata modern. Dengan semangat rela berkorban demi nusa dan bangsa, jiwa dan raga mereka dipertaruhkan untuk tegaknya kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 sampai titik darah penghabisan.
Mengingat betapa tinggi nilai peristiwa bersejarah ini, tentunya sebagai wahana untuk mengenang kembali betapa besar jasa para pahlawan kita yang telah rela mengorbankan jiwa dan raganya, selain  memperingatinya setiap tanggal 10 Nopember, juga dibangunnya Monumen Perjuangan TUGU PAHLAWAN, tidaklah berlebihan kalau tempat-tempat bersejarah dalam rangkaian peristiwa 10 Nopember tersebut dijadikan suatu paket wisata sejarah "NAPAK TILAS PERTEMPURAN AREK-AREK SUROBOYO". Sekitar  Jembatan  Merah  (Gedung Internatio), sekitar Tugu Pahlawan (Markas Kentepai Jepang / Gedung Raad Van Justitie) dan Hotel Mandarin Majapahit ( Hotel Orange / Hoteru  Yamato ) sangat baik untuk dikunjungi di samping ± 50 titik tempat bersejarah lainnya.

Obyek / Gedung Tempat lain Bernilai Sejarah Peristiwa
Penting dalam Pergolakan Perjuangan di Surabaya
(Agustus - November 1945)

16. Jemb. Wonokromo Sek. Keb. Binatang : Jln. Darmo
17. Monumen Pos Polisi Istimewa : Jln. Darmo
18. Gedung Radio Sby. Simpang Weg (Ged. BRI) : Jln. Pemuda
19. Darmo Barrack : Kampung Darmo
20. Kohara Butai : Gunung Sari
21. Lapangan Gunungsari : Yani Golf
22. Ged. Sebelah Bioskop Dana, antara Darmo Boulevard dan Tamarindelaan
      : Jln. Pandegiling
23. Ged. Jln. Kayun 34 (Sek. Ged. Indosat) : Jln. Kayun
24. Ged. Jln. Kayun 72-74 (Ged. Imigrasi) : Jln. Kayun
25. Rumah Jalan Biliton 7 : Jln. Biliton
26. Ged. di Kaliasin 121-125 (Kant. Disparda) : Jln. Basuki Rahmat 119-121
27. Ged. Nirom di Embong Malang (Sek. Hotel Westin) : Jln. Embong Malang
28. CBZ (RSU Simpang) : Jln. Pemuda
29. Rumah Jalan Mawar : Jln. Mawar
30. Gedung Embong Sawo 34-36 : Jln. Embong Sawo
31. Gedung Embong Wungu 2-4 : Jln. Embong Wungu
32. Gedung Jalan Tunjungan 100 : Jln. Tunjungan
33. Penjara Koblen : Jln. Koblen
34. Lap. Pasarturi (bel. Pasar Turi dekat viaduct) : Hal. Kantor DPRP I
35. Ged. di Julianalan 9 (Sek. Jln. Mobes M. Duryat) : Jln. Kombes Pol. M. Duryat
36. Ged. di Wilhelminalaan - Princesselaan : Jln. Widodaren
37. Marine (Kaigun) Gubeng, Gubeng Pojok : Jln. Gubeng
38. Lap. Tambaksari, Sek. Gelora 10 November : Jln. Tambaksari
39. R.S. K. Menjangan, sek. R.S. DR.Sutomo : Jln. Dharmawangsa
40. HBS, Ged, SMA Jln. Wijayakusuma 48 : Jln. Kusumabangsa
41. THR (Taman Hiburan Rakyat) Jln. Kusumabangsa, dulu Jaamarck Canalaan
      : Jln. Kusumabangsa 114
42. Hotel Ngemplak, sudut Ambengan : Jln. Ambengan
43. Thesinkstraat 30, Sek. Jln. Kecilung : Jln. Kecilung
44. Bioskop King & Sek. Alun-alun Contong : Jln. Gemblongan
45. Ged. Jln. Tembok Dukuh 34 A : Jln. Tembok Dukuh
46. Hoofd Bereau Van Politie di Paradestraat, Sek. Taman Sikatan : Jln. Sikatan
47. Penjara Kalisosok, Werfstraat : Jln. Kalisosok
48. Rumah Jln. Jakarta 5 (Bataviaweg) : Jln. Sisingamangaraja
49. Citadelweg, Ged. Al - Irsyat : Jln. Perak Barat
50. Westerbuitenweg (Jln. Indrapura) Sek. Masjid Kemayoran : Jln. Indrapura
51. Pangkalan Ujung : Pelabuhan Tanjung Perak
52. Morokrembangan (lap. Terbang Udara TNI AU) : Jln. Morokrembangan
53. Pulau Nyamukan (Sek. Mercusuar) : Di Selat Madura

Aasal-usul Kota Surabaya

Kumpulan Cerita rakyat
Gambar asal usul Surabaya.jpeg
Asal usul Surabaya adalah sebuah buku terbitan Bintang Indonesia, yang menceritakan tentang sejarah bermula nya nama untuk kota Surabaya. Dalam buku ini di kisahkan tentang perkelahian dua jenis hewan yang sama-sama gagah dan sama-sama kuat, yaitu seekorIkan Hiu yang bernama 'Sura', dan seekor Buaya.
Dahulu, di lautan luas sering terjadi perkelahian antara Ikan Hiu Sura dengan Buaya. Mereka berkelahi hanya karena berebut mangsa.Keduanya sama-sama kuat, sama-sama tangkas,sama-sama cerdik, sama-sama ganas dan sama-sama rakus.Sudah berkali-kali mereka berkelahi belum pernah ada yang menang atau pun yang kalah. akhirnya mereka mengadakan kesepakatan. "Aku bosan terus-menerus berkelahi, Buaya," kata ikan Sura. "Aku juga, Sura.Apa yang harus kita lakukan agar kita tidak lagi berkelahi?" tanya Buaya Ikan Hiu Sura sudah punya rencana untuk menghentikan perkelahiannya dengan Buaya segera menerangkan. "Untuk mencegah perkelahian di antara kita,sebaiknya kita membagi daerah kekuasaan menjadi dua. Aku berkuasa sepenuhnya di dalam air dan harus mencari mangsa di dalam air,sedangkan kamu barkuasa di daratan dan mangsamu harus yang berada di daratan. Sebagai batas antara daratan dan air, kita tentukan batasnya,yaitu tempat yang dicapai oleh air laut pada waktu pasang surut!" "Baik aku setujui gagasanmu itu!" kata Buaya.
Dengan adanya pembagian wilayah kekuasaan, maka tidak ada lagi perkelahian antara Sura dan Buaya. Keduanya telah sepakat untuk menghormati wilayah masing-masing. Tetapi pada suatu hari,Ikan Hiu Sura mencari mangsa di sungai. Hal ini dilakukan dengan sembunyi-sembunyi agar Buaya tidak mengetahui. Mula-mula hal ini memang tidak ketahuan. Tetapi pada suatu hari Buaya memergoki perbuatan Ikan Hiu Sura ini.Tentu saja Buaya sangat marah melihat Hiu Sura melanggar janjinya. "Hai Sura, mengapa kamu melanggar peraturan yang telah kita sepakati berdua? Mengapa kamu berani memasuki sungai yang merupakan wilayah kekuasaanku?" tanya Buaya. Ikan Hiu Sura yang merasa tak bersalah tenang-tenang saja. "Aku melanggar kesepakatan? Bukankah sungai ini berair.Bukankah aku sudah bilang, bahwa aku adalah penguasa di air? Nah, sungai ini 'kan ada airnya, jadi juga termasuk daerah kekuasaanku, " Kata Ikan Hiu Sura. "Apa? Sungai itu 'kan tempatnya di darat, sedang daerah kekuasaanmu ada di laut, berarti sungai itu adalah darerah kekuasaanku!" Buaya ngotot. "Tidak bisa. Aku 'kan tidak pernah bilang kalau di air itu hanya air laut, tetapi juga airsungai" jawab Hiu Sura? "Kau sengaja mencari gara-gara,Sura?" "Tidak! kukira alasanku cukup kuat dan aku memang dipihak yang benar!" kata Sura. "Kau sengaja mengakaliku.Aku tidak sebodoh yang kau kira!" kata Buaya mulai ,marah. "Aku tidak perduli kau bodoh atau pintar, yang penting air sungai dan air laut adalah kekuasaanku!" Sura tak mau kalah. Karena tidak ada yang mau mengalah, maka pertempuran sengit antara Ikan Hiu Sura dan Buaya terjadi lagi.
Pertarungan kali ini semakin seru dan dahsyat. Saling menerjang dan menerkam, saling menggigit dan memukul. Dalam waktu sekejap, air disekitarnya menjadi merah oleh darah yang keluar dari luka-luka kedua binatang tersebut. Mereka terus bertarung mati-matian tanpa istirahat sama sekali. Dalam pertarungan dahsyat ini, Buaya mendapat gigitan Hiu Sura di pangkal ekornya sebelah kanan. Selanjutnya, ekornya itu terpaksa selalu membengkok kekiri. Sementara ikan Sura juga tergigit ekornya hingga hampir putus, lalu ikan Sura kembali ke lautan. Buaya puas telah dapat mempertahankan daerahnya.
Pertarungan antara ikan Hiu yang bernama Sura dan Buaya ini sangat berkesan di hati masyarakat Surabaya. Oleh karena itu,nama Surabaya selalu dikait-kaitkan dengan peristiwa ini. Dari peritiwa inilah kemudian dibuat lambang Kota Surabaya yaitu gambar "ikan sura dan buaya". Namun ada juga sebahagian berpendapat, asal usul Surabaya berasal dari kata Sura dan Baya. Sura berarti Jaya atau selamat. Baya berarti bahaya, jadi Surabaya berarti "selamat menghadapi bahaya". Bahaya yang dimaksud adalah serangan tentara Tar-tar yang hendak menghukum Raja Jawa.Seharusnya yang dihukum adalah Kartanegara, karena Kartanegara sudah tewas terbunuh, maka Jayakatwang yang diserbu oleh tentara Tar-tar itu. Setelah mengalahkan Jayakatwang, orang Tar-tar itu merampas harta benda dan puluhan gadis-gadis cantik untuk dibawa keTiongkok. Raden Wijaya tidak terima diperlakukan seperti itu. Dengan siasat yang jitu, Raden Wijaya menyerang tentara Tar-tar di pelabuhan Ujung Galuh hingga mereka menyingkir kembali ke Tiongkok. Selanjutnya, dari hari peristiwa kemenangan Raden Wijaya inilah ditetapkan sebagai hari jadi Kota Surabaya. Surabaya sepertinya sudah ditakdirkan untuk terus baergolak.Tanggal 10 November 1945 adalah bukti jati diri warga Surabaya yaitu berani menghadapi bahaya serangan Inggris dan Belanda. Di zaman sekarang, setelah ratusan tahun dari cerita asal usul Surabaya tersebut, ternyata pertarungan memperebutkan wilayah air dan darat terus berlanjut. Di kalamusim penghujan tiba kadangkala banjir menguasai kota Surabaya. Pada musim kemarau kadangkala tempat-tempat genangan air menjadi daratan kering. Itulah Surabaya.

Kamis, 07 Agustus 2014

Luas area kraton surabaya

2. Alun-Alun Contong

Panjang Kraton Surabaya itu sejak dari Kebonrojo ke Alun-Alun Contong yang merupakan alun-alun selatan, sedangkan alun-alun utara adalah Tugu Pahlawan.

Pada tahun 1889 lapangan yang berbentuk kerucut ini diberi nama Von Bultzingslöwenplein. Nama ini diambil dari nama Günther von Bultzingslöwen (1839-1889), bekas konsul Jerman di Surabaya yang berjasa terhadap Palang Merah di Perang Aceh I (1873-1874). Tugu di tengah alun-alun dibangun untuk memperingati jasa dari Von Bultzingslöwen
Tulisan dari gambar tugu di samping adalah :
Gedung ini pernah mengalami kehantjuran dimasa revolusi kemerdekaan tahun 1945 sebagai akibat berkobarnja pertempuran di kota surabaja dan pemboman pihak musuh ( inggris, gurkha, nica ) jang dilantjarkan dari darat,laut dan udara

surabaja menjadi lautan api bersamaan dengan itu bertjutjuranlah tetesan darah dan gumpalan daging para pahlawan pejuang kemerdekaan jang telah mendahului kita gugur sebagai kusuma bangsa
sifat kepahlawanan mereka adalah perwudjutan jang njata sebagai watak untuk rela berkorban demi suatu tugas suthi jang besar dan tjita tjita jang besar pula jang tumbuh dari kesadaran tanpa pamrih akan dharma baktinja kepada panggilan tanah air
sedjarah membuktikan bahwa kepahlawanan bukan monopolinja seseorang atau golongan melainkan suatu perhiasan watak jang setiap orang/rakjat dan siapapun dapat memiliki asal ia sedia berkorban untuk kepentingan 
negara dan bangsanja
kita harus berani dan djudjur menilai keadaan bahwa amal perbuatan jang didjiwai dengan semangat sedia dan rela berkorban akan menentukan nilai dan mutu kepahlawanan setiap orang
rasa chidmad dan terimakasih kepada mereka jang kini makam makamnja terpendam dibumi indonesia berserakan didalam makam makam pahlawan seluruh nusantara
tak ada perdjuangan tanpa pengorbanan dan pengorbanan itulah jang akan hasilnja suatu perdjuangan
itu sendiri
djadikanlah hari pahlawan sebagai hari untuk membaharui semangat kepahlawanan disepandjang masa

surabaja, 10 nopember 1970


Berikut adalah gambar rumah khas Kota Surabaya 



Sejarah Awal Surabaya

Jejak "Kraton" Surabaya (1293-1755)
Sejarah Surabaya berawal dari pertempuran sengit antara pasukan Raden Wijaya dengan tentara Mongol di Hujung Galuh yang dimenangkan pasukan Raden Wijaya pada 31 Mei 1293, sehingga Hujung Galuh berganti menjadi Curabhaya yang berarti keberanian menghadapi bahaya.
Sejak kepemimpinan Raden Wijaya pada 1293 itu, Surabaya menggunakan sistem pemerintahan kekratonan (semacam kabupaten/kota di dalam kerajaan/provinsi) hingga akhirnya Surabaya jatuh ke tangan penjajah Belanda pada tahun 1755 yang mengganti pusat pemerintahan dari "kraton" ke "Residence Wooning" yang kini disebut sebagai Gedung Grahadi.
Berbagai hasil riset sejarah mencatat kawasan "Kraton Surabaya" itu mencapai luas pada area-area ini:

1. Kebonrojo 
Kraton Surabaya yang saat itu dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit itu merupakan kawasan yang bermula dari Taman Kraton di Kebonrojo yang kini menjadi kantor pos. Sebelum menjadi kantor pos, Taman Kraton itu sempat menjadi HBS yang merupakan sekolah yang pernah diikuti Bung Karno, lalu berganti lagi menjadi Kantor Pos Surabaya hingga kini.